Pesta Demokrasi di Indonesia tidak lama lagi akan di gelar, pemilihan umum 2014 hanya tinggal dalam hitungan bulan. Sontak saja hal ini membuat partai politik di Indonesia berbondong-bondong untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu. Tak ayal, pada pemilu 2014 nanti, banyak parpol mengusung nama-nama calon legislatifnya yang berasal dari kalangan artis.
Ikutnya artis dalam politik memang bukan merupakan hal yang baru. Dan mungkin sudah sangat lazim. lihat saja, pada pemilu 2009 silam. Ada banyak sekali artis yang terdaftar sebagi calon legislatif, dan ada pula beberapa artis yang sukses mendapatkan suara dan menduduki kursi jabatan. Seperti contohnya: Eko patrio (PAN), Rieke diah pitaloka (PDIP), Tantowi yahya (Golkar), Ruhut Sitompul (Demokrat), dan beberapa artis lainnya. Dan ikutnya artis dalam pemilu tidak hanya ada di Indonesia saja. bahkan di negara lain juga ada beberapa artis yang sukses mendapatkan jabatan di pemerintahan, ambil saja contohnya selebriti asal Amerika Serikat, Ronald Reagen dan Arnold Schwarzenegger, yang juga masuk arena politik serta berhasil menjadi presiden dan gubernur. Adapun tujuan parpol merekrut para artis ialah demi mendongkrak suara untuk partai dengan memanfaatkan ketenaran dan popularitas artis – artis yang di usungnya.
Bagi para artis, media massa sangat berperan penting dalam komunikasi politik. sehingga dalam ajang pemilu. Televisi dianggap sebagai medium sempurna yang dapat menambah kemasyuran dan membentuk citra diri. apalagi Sistem pemilu dilakukan secara langsung. Tak ayal membuat artis yang sudah populer dan di kenal publik menjadi pilihan masyarakat. Terlebih lagi, hampir sebagian masyarakat Indonesia lebih suka menonton sinetron daripada berita. Sehingga tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mereka lebih banyak mengenal figur para artis daripada anggota politisi. Jadi apabila mereka menemukan “Photo” caleg artis di surat suara, mereka akan cenderung memilihnya. Karna mereka mungkin saja tidak mau memilih calon-calon lain yang dianggap tidak terkenal dan hanya suka mengobral janji belaka saat kampanye.
Namun ironis rasanya jika popularitas dijadikan artis dan parpol sebagai senjata ampuh untuk mandapatkan suara terbanyak atau vote getter. karena jika demikian, bagaimana nasib para calon yang sama sekali tidak memiliki popularitas, Dan maksimalkah parpol dalam menjalankan salah satu fungsinya yaitu “Perekrutan Politik”?.
Memang, sebagian masyarakat indonesia, terutama pada masyarakat perkotaan, dan masyarakat menengah atas, mereka dianggap sudah “melek” dalam memberikan pemilihan. Mereka benar-benar akan memilih caleg yang sudah memiliki kualitas yang baik, sehingga tidak akan memilih mereka yang hanya mengandalkan populeritas saja. Tapi sayang, dengan minimnya pendidikan yang dimiliki masyarakat menengah bawah, akan sangat sulit bagi mereka untuk bisa menilai setiap caleg yang mencalonkan diri. bahkan Mereka cenderung tidak akan peduli pentingnya memilih caleg yang mempunyai kualitas yang baik. Karena bagi mereka. Siapapun yang mereka pilih, itu tidak akan memberikan perubahan yang berarti terhadap mereka. Begitu pula dengan fungsi yang seharusnya dimiliki parpol, jika parpol lebih memilih mendulang suara yang banyak dan mengesampingkan kemampuan dan kredibilitas anggotanya. Maka parpol dianggap balum mampu memaksimalkan fungsi parpol itu sendiri, karena dengan masuknya artis dalam parpol, sedikit memperlihatkan tiadanya proses perekrutan yang baik. Seandainya partai politik mampu menjalankan fungsi perekrutan dengan baik, seharusnya mereka tidak perlu repot-repot menggotong para artis yang mengandalkan popularitas.
Meskipun dari beberapa artis yang sukses duduk di senayan mampu memberikan kinerja yang baik dan bisa bertanggung jawab atas tugasnya, namun tetap saja, bagi masyarakat yang paham terhadap politik, akan menganggap bahwa ikutnya artis dalam pemilu 2014 hanya sekedar bentuk “latah”. Karena mereka terinspirsi oleh rekan mereka yang telah menikmati jabatan di senayan.
Akhirnya, memang, pada dasarnya semua orang berhak untuk masuk partai politik dan ikut dalam pemilu. Namun, kapasitas dan pengalaman serta pengetahuan di bidang politik, pemerintahan, dan kemasyarakatan harus tetap dimiliki oleh tiap calon legislatif. Bukan hanya sekedar mengandalkan popularitaas saja. Dan partai politik, jika memang ingin merekrut para artis, seharusnya merekrut artis yang benar-benar sejak awal aktif menjadi anggota partai politik dan terlibat dalam program dan kerja-kerja partai serta memiliki kredibilitas. Bukan tiba-tiba saja mempersilahkan para artis masuk arena pilihan, tanpa melalui proses perekrutan yang tertata. Karena jika demikian, partai politik bisa dianggap telah mengalami kemandekan rekrutmen.
Sekian...
Terima Kasih
Sabtu, 14 Desember 2013
POPULERITAS ARTIS demi PARPOL YANG POPULER (Sofia Rahmawati Abdurrab)
23.07
No comments
Oleh: SOFIA RAHMAWATI ( Semester V Reguler Ilmu Pemerintahan, Universitas Abdurrab Pekanbaru)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar
Berminat untuk menampilkan tulisannya silakan hubungi Admin!
sopriadiahmad@gmail.com/0852-1091-1440